Sabtu, 18 Februari 2012

PTK Matematika


Meningkatkan Kompetensi Operasi Penjumlahan dan Pengurangan Bilangan Bulat 
dengan Alat Bantu Kartu Positif (+) Negatif (-)
Siswa Kelas VII.G SMP Negeri 1 Curup Timur

GITO, S.Pd. Operasi penjumlahan dan pengurangan pada bilangan bulat adalah operasi dasar pada pembelajaran Matematika,karena pembelajaran matematika berikutnya sangat tergantung pada penguasaan materi ini. Maka menjadi sangat penting menanamkan konsep ini kepada siswa agar pemahaman operasi hitung pada bilangan bulat lebih nyata.Apakah alat bantu/alat peraga kartu positif (+) negatif (-) dapat memotifasi dan meningkatkan kompetensi    operasi penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat siswa kelas VII.G SMP Negeri 1 Curup Timur ? 
Penelitian ini bertujuan untuk menyertakan siswa secara aktif dalam proses belajar mengajar. Aktivitas dan kreativitas siswa dalam proses pembelajaran perlu diketahui dalam pembahasan materi operasi Penjumlahan dan Pengrangan Bilangan bulat. Penelitian ini menggunakan desain Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Lokasi penelitian di SMP Negeri 1 Curup Timur, sebagai populasi penelitian Siswa kelas VII SMP Negeri 1 Curup Timur sedangkan sebagai sampel penelitian adalah siswa kelas VII.G SMP Negeri 1 Curup Timur .

Prosedur penelitian melalui tahapan : Perencanaan , Observasi, Refleksi, dan Analisis. Observer adalah guru Matematika teman sejawat. Penelitian dilakukan dalam dua siklus. Pola pembelajaran yang dikembangkan yaitu pembahasan operasi Penjumlahan dan Pengurangan Bilangan bulat dengan alat bantu kartu positif (+) negatif (-).
Berdasarkan hasil pembelajaran dengan alat bantu kartu positif (+) negatif (-) yang dikembangkan dapat meningkatkan penguasaan siswa kelas VII.G  SMP Negeri 1 Curup Timur terhadap meteri operasi Penjumlahan dan Pengurangan Bilangan Bulat dari nilai rata-rata 5,18  menjadi 8,65.  

BAB  I
PENDAHULUAN

A.Latar Belakang
            Matematika merupakan ilmu universal yang mendasari perkembangan teknologi
moderen,mempunyai peran penting dalam berbagai disiplin dan memajukan daya pikir manusia. Perkembangan pesat di bidang teknologi informasi dan komunikasi dewasa ini dilandasi oleh perkembangan matematika di bidang teori bilangan,aljabar,analisis,teori peluang dan matematika diskrit. Untuk menguasai dan menciptakan teknologi di masa depan diperlukan penguasaan matematika yang kuat sejak dini.
Mata pelajaran matematika bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut :
1.      Memahami konsep matematika,menjelaskan keterkaitan antar konsep dan mengaplikasikan konsep atau algoritma,secara luwes,akurat,efesien,dan tepat dalam memecahkan masalah.
2.      Menggunakan penalaran pada pola dan sifat,melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi,menyusun bukti,atau menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika.
3.      Memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah,merancang model matematika,menyelesaikan model dan menafsirkan solusi yang diperoleh.
4.      Mengomunikasikan gagasan dengan simbol,tabel,diagram,atau media lain untuk memperjelas keadaan atau masalah.

5.      Memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan,yaitu memiliki sikap ingin tahu,perhatian,dan minat dalam mempelajari matematika,serta sikap dan percaya diri dalam memecahkan masalah.
            Dalam aktivitas pembelajaran di kelas,banyak ditemukan hambatan untuk mencapai suatu tujuan pembelajaran yang diinginkan. Seorang guru menginginkan bahwa proses pembelajaran yang dilakukan akan dapat mencapai tujuan dan sekaligus dapat meningkatkan penguasaan materi yang diajarkan. Hal ini akan terjadi jika antara guru dan siswa terjadi interaksi yang aktif dan komunikatif dalam proses pembelajaran,namun jika komponen-komponen yang ada di kelas tidak saling mendukung maka harapan itu tidak akan dapat tercapai dengan sempurna.
Hal-hal yang dapat menghambat tercapainya tujuan pembelajaran itu antara lain :
1.      Guru tidak mengikutsertakan siswa dalam pembahasan materi.
2.      Guru tidak dapat membuat alat peraga/alat bantu yang lebih sesuai dengan materi ajar,bahkan cenderung malas menggunakan alat peraga/alat bantu.
3.      Guru tidak menerapkan metode yang sesuai.
4.      Rendahnya daya tangkap siswa dari pesan lisan dan pesan gambar yang diungkapkan guru.
5.      Rendahnya minat belajar siswa terhadap pelajaran eksata,khususnya matematika.
6.      Tingkat pemahaman siswa yang bervariasi.
Untuk menghindari hambatan-hambatan tersebut kiranya seorang guru harus lebih kreatif dan inovatif di dalam melaksanakan pembelajaran di kelas,juga perlu lebih memahami kondisi kelas yang diajarnya. Untuk meningkatkan  kualitas pembelajaran guru hendaknya :
1.      Membuat rancangan bahan ajar yang dapat dicermati siswa.
2.      Berinovasi dalam setiap penbelajaran.
3.      Menciptakan dan mampu menggunakan alat peraga/alat bantu sesuai dengan kebutuhan peserta didik.
4.      Menggunakan metode yang tepat sesuai dengan alat peraga/alat bantu yang memudahkan siswa memahami materi pembelajaran.
5.      Menguasai sepenuhnya materi bahan ajar.
6.      Membagi waktu setiap tahap dalam proses pembelajaran.

Pada pelaksanaan proses pembelajaran siswa kelas VII.G  SMP Negeri 1 Curup Timur,dengan kondisi kemampuan siswa yang bervariasi,dan cenderung memiliki kemampuan di bawah rata-rata dari keseluruhan siswa kelas VII di SMP Negeri 1 Curup Timur dan ditambah dengan kelengkapan sarana buku yang belum memadai maka sangat sulit untuk dapat mencapai target pembelajaran sesuai yang diharapkan. Standar kompetensi Bilangan,pada kompetensi dasar operasi hitung bilangan bulat merupakan materi yang sangat menentukan pada pembelajaran berikutnya. Karena kompetensi ini akan menjadi dasar pada pengembangan materi selanjutnya.
            Untuk membantu memecahkan masalah tersebut,maka peneliti memcoba melakukan pendekatan pembelajaran yang lebih          kongkrit pada kompetensi dasar operasi penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat,dengan membuat:
1.      Alat bantu /alat peraga berbentuk kartu positif (+) negatif (-) untuk mempermudah siswa melakukan perhitungan penjumlahan bilangan bulat.
2.      Merancang model pembelajaran yang menuntut siswa lebih aktif dan kreatif.
3.      Alat uji berupa lembar kerja siswa yang valit dengan petujuk yang jelas.
Peneliti berharap dengan membuat hal tersebut di atas,siswa semakin tertarik untuk ikut secara aktif dalam proses pembelajaran.
B.Rumusan Masalah
            Permasalahan dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut :
1.      Apakah model pembelajaran operasi penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat dengan  alat bantu/alat peraga kartu positif (+) Negatif (-) dapat memotivasi siswa dalam mengikuti pelajaran di kelas ?
2.      Apakah alat bantu/alat peraga kartu positif (+) negatif (-) dapat meningkatkan kompetensi    operasi penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat siswa kelas VII.G SMP Negeri 1 Curup Timur ? 

C.Tujuan dan Manfaat Penelitian
1.      Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh gambaran yang jelas tentang kompetensi operasi penjumlahan bilangan bulat siswa kelas VII.G SMP Negeri 1 Curup Timur Kabupaten Rejang Lebong Tahun Pelajaran 2009/2010 dan untuk mengetahui sejauh mana model pembelajaran dengan menggunakan alat bantu Kartu positif (+) negatif (-) dapat meningkatkan kemampuan penguasaan operasi penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat.

2.      Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini sangat bermanfaat bagi guru untuk inovasi pembelajaran,juga memudahkan guru dalam membimbing siswa,terutama siswa yang memiliki kemampuan di bawah rata-rata pada pelajaran matematika. Bagi siswa model pembelajaran dengan alat batu Kartu positif (+) negatif (-) merupakan variasi pembelajaran yang menyenangkan yang dapat menumbuhkan aktivitas dan kreativitas siswa,sehingga dapat meningkatkan kemampuan  siswa  pada kompetensi operasi penjumlahan bilangan bulat.

BAB  II
KERANGKA KONSEPTUAL

A.Komponen Pembelajaran Matematika
            Peneliti menganggap perlu mencari cara untuk dapat membantu siswa kelas VII.G     SMP Negeri 1 Curup Timur agar lebih mudah memahami materi ajar dan lebih kuat dalam ingatan mereka tentang materi ajar dalam pembelajaran operasi penjumlahan bilangan bulat. Latar belakang kemampuan pada pelajaran matematika kelas VII.G  SMP Negeri 1 Curup Timur ini termasuk lemah dan di bawah rata-rata dari keseluruhan siswa kelasVII. Hal ini terlihat dari data hasil NEM SD dan dari hasil Tes Awal Kemampuan Dasar  yang dilaksanakan pada kegiatan MOS (Masa Orientasi Siswa) Kelas VII SMP Negeri 1 Curup Timur tahun pelajaran 2009/2010
(hasil rekap NEM dan Tes Kemampuan Dasar: terlampir). Dari hasil pelaksanaan tes kemampuan dasar itu pula pengelompokan mereka berada pada kelas yang paling terendah.  Perlu diketahui urutan kelas tersusun dari tingkat pengetahuan tertinggi sampai terendah,yaitu: Kelas  VII.A→Kelompok tertinggi
Kelas. VII.B → Kelompok peringkat 2
Kelas .VII.C → Kelompok peringkat 3
Kelas .VII.D → Kelompok peringkat 4        
Kelas .VII.E → Kelompok peringkat 5
Kelas .VII.F → Kelompok peringkat 6
Kelas .VII.G→ Kelompok peringkat terendah
            Peneliti menyakini jika siswa kelas VII.G  SMP Negeri 1 Curup Timur dalam proses pembelajaran,khusus dalam pembelajaran matematika dilibatkan secara aktif dengan teknik dan alat bantu yang sesuai dengan tingkat pemahaman mereka secara umum,maka akan meningkatkan kompetensi mereka,di mana peneliti akan menggunakan alat bantu
 Kartu Positif (+) Negatif (-) dalam proses pembelajaran khusus dalam materi operasi penjumlahan bilangan bulat. Pembelajaran dengan menggunakan alat bantu kartu positif (+) negatif (-) pada operasi penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat yang dimaksud adalah pembelajaran dengan melibatkan siswa secara aktif  menggunakan alat bantu tersebut untuk menentukan hasil penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat,sehingga siswa dengan sendirinya dapat membuat suatu kesimpulan mengenai sistem pada penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat.
Surakhmad (1986) menggolongkan interaksi menjadi tiga :
1.      Pengalaman riil,yakni segenap media dalam kehidupan sehari-hari.
2.      Pengalaman buatan, yakni segenap media yang sengaja diciptakan untuk mendekatakan pengertian pada pengalaman riil.
3.      Pengalaman verbal,dimana bahasa merupakan alat utama baik lisan maupun tertulis.
,.....................................................dst.???


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar